Pekan Kebudayaan Aceh

tarian

Acara Pekan Kebudayaan ini telah dilangsungkan sejak tahun 1958. Hingga saat ini PKA telah berlangsung sebanyak 4 kali penyelenggaraannya. Untuk PKA berikutnya, yaitu PKA ke -V akan berlangsung pada bulan Agustus 2009 nanti berlokasi di Taman Safiatuddin.

Sekedar me-review catatan perjalanan PKA di Aceh sebagai berikut :

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) – I

Sejarah mencatat bahwa PKA I diselenggarakan pada tahun 1958. ketika itu ide penyelenggaraan acara PKA I ini diilhami oleh kesadaran tokoh-tokoh Aceh saat itu pentingnya penyelesaian sesuatu melalui pendekatan budaya. Ada tiga pejabat yang menjadi trio lahirnya islah kebudayaan ini. Mereka mencurahkan perhatiannya untuk pelestarian kebudayaan. Trio itu adalah Gubernur A. Hasjmy, ketua penguasa Perang/Panglima Komando Daerah Militer Aceh Letkol Syamaun Gaharu dan Mayor T. Hamzah Bendahara.
Ide PKA I ini dicetuskan didasarkan kepada beberapa motivasi saat itu. Di antaranya, keinginan memulihkan Aceh secara total setelah peristiwa DI/TII pada tahun 1950-an. Serentetan usaha kearah itu dilakukan (Pemda dan masyarakat) yang berada di luar Aceh dalam upaya memulihkan keamanan. Misalnya, masyarakat dan mahasiswa Aceh di Bandung – yang tergabung dalam IPS (Ikatan Pemuda Seulawah) mengadakan Kongres Pelajar/Mahasiswa Aceh pada tahun 1956 di bawah pimpinan AK Yacoby di Jakarta. Pada tahun yang sama (1956) dilakukan pula Kongres Kilat Masyarakat Aceh yang dipimpin oleh Nyak Husda . Demikian pula pada tahun 1957 diadakan Kongres Masyarakat Aceh di Medan di bawah pimpinan Nur Nekmat dan Said Ibrahim. Tahun itu juga para Pemuda Pejoang Aceh yang tergabung dalam Divisi Gadjah Putih mengadakan Reuni di Yogyakarta. Semua pertemuan itu telah memberikan andil bagi memulihkan keamanan dan pembangunan kembali daerah Aceh. Di antara pikiran dan gagasan itu kemudian terwujud adalah rencana membangun kembali pendidikan melalui pembangunan Kopelma Darussalam.
Motivasi lain adalah kenyataan sejarah masa lampau bahwa daerrah Aceh kaya budaya. Karenanya, ide PKA disambut hangat oleh masyarakat. Masyarakat merindukan kebesaran budaya indatunya, menghidupkan dan melestarikannya, terutama adat dan kesenian, yang nyaris hilang setelah sekian lama terpendam dan hilang akibat sejarah Aceh yang suram dirundung oleh konflik.

Kerinduan membangun kembali kebudayaan Aceh terangkum dalam piagam “Adat bak Poteumeurohom, Hukom bak Syiah Kuala”. Hal itu menjadi tema PKA I, yang saat itu diketuai oleh Mayor T. Hamzah. Acara pembukaan PKA I ini berlangsung di Gedung Balai Teuku Umar pada tanggal 12 Agustus 1958 dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan Prof. Dr. Prijono, yang juga sekaligus menutup acara ini pada tanggal 23 Agustus 1958. PKA I pertama telah memberi bias positif bagi perkembangan Aceh. Sebab selain berhasil mengangkat kembali sejumlah adat dan kesenian tradisional Aceh, juga terwujudnya tujuan-tujuan lain yang selaras, yaitu terbentuknya Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Ketika itu telah dapat digali dan dihidupkan kembali sekitar 20 buah tarian tradisional Aceh dan beberapa tari kreasi baru, termasuk tari Ranub Lampuan dan tari Punca Utama. Pagelaran adat dari berbagai etnis lokal ditampilkan. Seperti adat perkawinan, perdamaian, bereles (sunat rasul), Imah Ku Wih (turun mandi) yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Aceh Tengah. Bermacam-macam permainan, seperti maen gaseng, meuen galah, sepak raga, panza, geude-geude dan sebagainya, tarian Saman (tarian asli Aceh Tenggara), Ratoh yang berasal dari Padang Tiji Pidie, tarian Landak Sampot, taria Guel berhasil diangkat kembali.

Yang paling penting lagi terwujudnya cita-cita rakyat untuk membangun kembali pendidikan di Aceh, yang ditandai oleh berdirinya Kopelma Darussalam pada tahun 1959.

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) – II

Masa terus bergulir dan musim terus berganti, politik pemerintah berubah – dari Orde Lama ke Orde Baru – dan berbagai pemikiran terus berkembang. Kalau pada PKA I telah berhasil mewujudkan cita-cita rakyat di bidang pendidikan dengan simbol Kopelma Darussalam , maka pada PKA II (20 Agustus – 2 September 1972) juga berhasil menggagas berdirinya sebuah institut seni budaya di Aceh. Selain itu, pada PKA II telah berhasil diselenggarakan berbagai kegiatan yaitu pameran kebudayaan, pawai kebudayaan, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat dan tour.

Banyak nama-nama besar yang memegang peranan dalam terlaksananya pesta budaya PKA ini. Di antaranya A. Muzakkir Walad (Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh), Mayjen Aang Hanafi (Pangdam I Iskandar Muda), Drs. Marzuki Nyakman (Wakil Gubernur), Brigjen A. Rivai Harahap (Kepala Staf Kodam I) dan Prof. A. Madjid Ibrahim, kala iu masih menjabat sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala sekaligus ketua Aceh Development Board. PKA IV dibuka oleh Menteri Penerangan H. Budiarjo dan ditutup oleh Ibu Tien Soeharto.

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) – III

Aceh yang bermartabat menjadi api simbolis rakyat Aceh melaksanakan PKA III. PKA III diselenggarakan pada tahun 1988, pada masa itu gubernur dijabat oleh Ibrahim Hasan. Hasilnya yang diperoleh dari event ini adalah peletakan dasar rajutan sejarah dari masa ke masa. Tidak hanya mengenai filosofi dan tradisi yang mendasarinya, tetapi juga membahas tentang masyarakat Aceh ke masa depannya. Ketika itu PKA III telah mampu menampilkan lebih dari 80 buah tarian tradisional dan kreasi baru. Selain itu, banyak juga produk budaya yang sudah hilang dihidupkan kembali dan dipakai menjadi kebanggaan bersama.

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) – IV

Setelah mengakhiri masa penantian yang begitu lama, kurang lebih 16 tahun. Pekan Kebudayaan Aceh IV dilaksanakan pada tanggal 19 – 28 Agustus 2004. Pembukaan PKA IV dilakukan oleh Presiden Megawati. Adapun lokasi pelaksanaan PKA ini Taman Safiatuddin. Taman ini berada persis di belakang kantor Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dari kejauhan akan terlihat pemandangan dan suasana seperti di Taman Mini Indonesia Jakarta, walaupun yang menjadi perbedaan adalah lokasinya tidak begitu luas.

Pada PKA IV ini telah terlaksana berbagai kegiatan, baik kegiatan yang berupa seminar maupun kegiatan non seminar, seperti atraksi budaya, pasar seni, pameran buku, pawai budaya, kenduri massal, dan sebagainya. Dapat dikatakan kegiatan PKA ini berlangsung sangat meriah apalagi pelaksanaan PKA IV dilaksanakan berbarengan dengan event Tahun Budaya.

Demikian perjalanan panjang Pekan Kebudayaan Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam yang kita cintai ini. Bagaimanakah pagelaran PKA ke V nanti, mudah-mudahan akan mampu menghidupkan kembali seni budaya Aceh yang saat ini semakin telindas dengan perubahan zaman.

Mari sukseskan Pekan Kebudayaan Aceh ke V.

Dicuplik dari : http://agusbwaceh.blogspot.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.